Kamis, 25 Juli 2024

 

 

400.

berlari kencang

melintas ambang petang

surya ‘kan tengg’lam

waktu tak pernah diam

hari semakin kelam

 

401

Sui Lan di mana

sejak lilin menyala

sesayup Ya Yue

imlek memberi hujan

harum di asap hio

 

402.

gerimis salju

hanami jadi sepi

bangku memutih

kuntum wajah sakura

masih mekar di hati

 

403.

mengintip bunga

ratu malam merekah

jantung berdegup

harum malam pengantin

senyum wajah rembulan

 

404.

hujan menderas

air meluap luap

merendam kota

orang orang menganggap

hal yang sudah biasa

 

405.

capung menari

mandi cahaya pagi

katak mengintai

hukum alam berputar

ular sedang menjalar

 

406.

mandau sang hiyang

roh yang terbang ke jagat

pada sasaran

roh pun melesat masuk

walau selubang jarum

 

407.

aku kepompong

metamorfosis senja

serupa ulat

pada jalan hayati

menyusur arah kiblat

 

408.

menuju dusun

letupan buah para

jalanan lengang

di sela batu sungai

nikmat gemercik air

 

409.

pagi yang segar

saat surya memancar

harum srigading

senyum perawan desa

usai mandi di sungai

 

410.

wanita itu

menyusur tabir malam

tersesat jalan

sujud dalam sajadah

kembali ke hakiki

 

411.

sepasang capung

terbang melayang layang

di atas kolam

semilir angin pagi

saat teratai mekar

               

412.

di tengah malam

khusuk duduk bersimpuh

basah sajadah

curahan isi hati

doa dari pendosa

 

413.

kemilau embun

pada kelopak mekar

sekuntum mawar

ingat di waktu milad

harum pada bajuku

 

414.

nikmatnya sunyi

usai ombak di pantai

saat bersenja

jauh di dasar jiwa

ayat alam semesta

 

415.

derai cemara

hembusan angin senja

mengantar surya

dikedalaman jiwa

membaca sabda alam

 

416.

suatu pagi

anak anak bersorak

ada pelangi

di hari anak anak

pawai keliling kota

 

417.

ramai sekali

pengunjung  pasar tungging

mendadak hujan

orang orang bergegas

cari tempat bernaung

 

418.

diremang malam

riuh tepian kolam

suara kodok

menutup akhir tahun

harapan masa depan

 

419.

ke mana jukung

sepi pasar terapung

hanyalah ilung

penghias rumah lanting

rantauan hutan bakau

 

420.

semilir angin

senandung rumpun bambu

gejolak rindu

kerbau jalan beriring

petang menapak desa

 

421.

dendang rantauan

jukung di tengah fajar

mencari sungai

sampai ke batas dongeng

negri seribu sungai

 

422.

jukung tambangan

harumnya bingka kentang

sarapan pagi

warung jukung terapung

eksotik negri Banjar

 

423

hanya suara

riuh di tengah hutan

rambai  meranggas

bekantan berloncatan

mencari pepucukan

 

424.

bayang melompat

di tengah hutan bakau

suara risau

matinya pohon rambai

Sungai Barito payau

 

425.

serumpun ilung

hanyut di sungai pasang

berbunga biru

dipetik jari lentik

hiasan sanggul putri

 

426.

segar kembali

aster bermandi embun

merah merona

pagi buka jendela

merkah senyum sang dara

 

427.

tumpahan hati

di tengah hening malam

dosa dan doa

kembali ke hakiki

asal mula hayatnya

 

428.

tubuh terbaring

di bawah lampu dinding

samar cahaya

sampai di batas malam

lenguh suara angin

 

429.

rembulan penuh

angin mengantar zikir

hening rumputan

ayat jagat semesta

dikedalaman sukma

 

430.

dari jendela

dedaunan bergoyang

selamat pagi

alhamdulillah

masih melihat surya

 

431.

di pohon jati

burung riang berkicau

menyambut pagi

kidung gadis perawan

hijau daun tembakau

 

432.

layar terkembang

arung samudra jiwa

rindu berlabuh

nun di timur sang surya

memancar cahya cinta

 

433.

kepak lelawa

lintas kaca jendela

menyepi ruang

bayang bayang mengendap

siluet dinding kamar

 

434.

menyusur jejak

misteri kehidupan

kamar ekstase

jauh di dasar jiwa

sabda alam semesta

 

435.

cahya mentari

dari kaca jendela

kicauan burung

kasih sayang illahi

nikmat tiada dusta

               

436.

di luar kamar

cuma kepak lelawa

melintas kelam

kemerlip kunang kurang

mengantar kerinduan

 

437.

tuhan di mana

jangan tinggalkan aku

siluet malam

hiruk pikuk nya zaman

di roda kehidupan

 

438.

jiwa mengombak

gelora laut cinta

nelayan tua

senja melabuh biduk

sampai di batas fajar

 

439.

jiwa terkembang

arung lembayung senja

rindu melancar

tertulis diriwayat

eksplor kehidupannya

 

440.

ombak berderai

buih sepanjang pantai

fajar memancar

sambut nelayan tiba

biduk muatan cinta

 

441

sekawan camar

mengantar senja kala

di tebing karang

lebur duduk bersimpuh

membaca debur ombak

 

442

pejaman mata

membusur langit biru

memburu angan

di atas ranjang waktu

melata bagai ular

 

443

cahya merkuri

Causeway,  Johor - Woodlands

harum seroja

mewangi kembang goyang

sanggul putri jelita

      

444

suatu pagi

sekumtum bunga tanjung

mekar di hati

ingat kenangan silam

harum seraut wajah

 

445

selembar daun

jatuh ke arus sungai

larut ke hati

nama pada epitaf

basah gerimis pagi

 

446

rembulan penuh

sangkut ke ujung ranting

pungguk menjerit

mendadak turun hujan

malam semakin kelam

 

447

menyusur sungai

ke dusun kelahiran

suara bangkong

teringat masa kecil

pakai obor ke surau

 

448

di luar kamar

lirih suara jangkrik

sajadah basah

terasa perjalanan

langkah di ujung jalan

 

449

sebatang pohon

jatuh reranting patah

angin berdebu

jalan di sudut kota

anjing mengais sampah

 

450

rintihan daun

saat lepas di ranting

pohon meranggas

senyap sebuah ruang

aroma pedupaan

 

451

flamboyan mekar

ada bangku menatap

di kesunyian

dari tadi wajahnya

wanita itu, kosong

 

452

sekawan burung

di dalam kabut asap

menuju pulang

langka pohon meranti

cericit anak enggang

 

453

bayangan pohon

sepanjang sisi jalan

remang lelampu

sekujur kota tua

derai rinai halimun

 

454

derai halimun

mawar merah merekah

membagi wangi

tiada didustakan

nikmat rahmat ilahi

 

455

menyusur jalan

cahaya kunang kunang

pejalan rindu

nikmat rasa dahaga

jauh jalan kembara

 

456

musafir rindu

lari di bawah bulan

mengejar bayang

cinta, jangan sembunyi

di balik angan angan

 

457

jantung dak dik duk

mengintip sedap malam

kelopak mekar

bunga desa ke sungai

ingin membasuh mimpi

 

458

ular merayap

lidah haus menjulur

rawa mengering

mendadak  elang hitam

menukik bagai kilat

 

459

usai selawat

lalu bersahut pantun

pengantin Banjar

roda zaman berputar

menggilas peradaban

 

460

air mengalir

di celah atap genteng

kamar menggenang

tak heran kota ini

acap terjadi banjir

 

461

di sudut kota

kerkhof ditinggal pergi

pecahan nisan

sebuah rumah tua

riuh bunyi lelawa

               

462

bunyi kangkurung

sampai jauh ke lembah

bukit meratus

mengharum kayu manis

dari tikar jemuran

 

463

kanak bermain

berakit pohon pisang

di sungai pasang

mungkin telah ditebang

dulu menikah jingah

 

464

membaca bintang

layar sudah dipasang

berbantal ombak

hopla angin dan ombak

tak letih saling susul

 

465

di puncak Tidar

hening pohon beringin

jiwa tadabur

sampai di batas senja

merangkai ayat tanka

 

466

di sinar surya

gelantung buah naga

merah merona

utama kesehatan

di dalam kehidupan

 

467

bias gerimis

buram kaca jendela

di luar kabur

pepohonan berlari

di jendela kereta

 

468

sepanjang jalan

berserak dedaunan

angin berhembus

truk melintas kota

rumah menghitam debu

 

469

angin Agustus

gebyar di langit biru

pekik merdeka

pada makam pahlawan

doa karangan bunga

 

470

berterang bintang

hening makam pahlawan             

putih epitaf

dalam diam tafakur

dikedalaman syukur

 

471

semilir angin

di hutan pohon pinus

jiwa yang teduh

kilau cahya mentari

di danau Aranio

 

472

di ambang fajar

hening alam semesta

ayam berkokok

damainya dusun Riam

kumandang azan subuh

 

473

gelap gulita

kilat terang memancar

derai cemara

lantun ayat al furqan

dari sebuah rumah

 

474

cahaya bulan

terang pohon cempaka

angin semilir

harum sebuah kamar

ayat seribu dinar

               

475

nikmatnya sunyi

usai deburan ombak

Pantai Takisung

cahya bintang bertabur

qalbu mengucap syukur

 

476

terdengar derai

angin di hutan pinus

menjelang petang

tiada kicau murai

saat lembayung usai

 

477

jalan bergegas

cari tempat berteduh

hujan mendadak

kota jadi gelisah

kerap dikepung banjir

 

478

masih gerimis

dan malam kian larut

kota menyepi

cahya lampu jalanan

membias warna pudar

 

479

alam menampak

hening di senja hari

cahaya kuning

pintu rumah ditutup

jukung pada menepi

 

480

kumandang azan

saat lembayung kelam

jiwa yang tentram

angin lereng Meratus

mengharum kayu manis

 

481

di daun lalang

seekor capung merah

berayun ayun

lembut angin berhemnbus

diterik matahari

 

482

di ujung daun

menggantung embun pagi

bunyi menetes

dari rahim kepompong

kupu kupu pelangi

 

483

daun bergoyang

mengucap rasa syukur

lebaran qurban

manifestasi iman

pada insan yang taqwa

 

484

qurban dhahiyyah

hujan mencuci debu

rahmat dan nikmat

insan yang tulus ikhlas

membagi rejekinya

 

485

kibas dan pisau

harum iman dan taqwa

di tanah haram

pintu jamaah haji

melantunkan talbiyah

 

486

sepanjang jalan

daunan berguguran

akhir Agustus

masih gebyar di langit

merah putih pusaka

 

487

di ambang fajar

dendang jukung berkayuh

pasar terapung

bekantan yang tersisa

riuh di pohon rambai

 

488

di saat  pagi

menikmati teh panas

kedai terapung

rindu jukung tambangan

eksotik tanah Banjar

 

489

pohon merunduk

pusar debu jalanan

angin yang kencang

gerimis berlarian

di daun berguguran

 

490

rembulan lenyap

awan menebal mendung

suara pungguk

jalan gelap gulita

menuju arah pulang

 

491

senja beringsut

suram laut Takisung

hening mengapung

pepohonman kelapa

berubah arca sunyi

 

492

rembulan pucat

dalam cahaya pagi

mencuci mimpi

di batu batu kali

bunyi air mengalir

 

493

bertiup kencang

rimbun daun bergoyang

suara kalong

lantunan surah yassin

dari sebuah rumah

 

494

jeritan daun

lepas dari rantingnya

siang manggantang

kabut debu mengepul

di pusar angin kencang

 

495

mencuci jiwa

dalam Masjid Nabawi

salat jumatan

air mata berlinang

mohon ampunan dosa

 

496

rindu kekasih

menuju ke rumahmu

di Jabal Rahmah

senyuman matahari

semanis buah kurma

 

497

mengejar cinta

dari Safa dan Marwah

nikmat dahaga

jauh terasa dekat

dekat adalah rahmat

 

498

menjelang subuh

alam semesta hening

ayam berkokok

bersyukur bagun tidur

masih melihat fajar

 

499

menapak pantai

debur ombak Pagatan

fajar memancar

nyiur pada melambai

salam nelayan pulang

 


 

500

pagi nan elok

kupu kupu berayun

di kembang culan

nikmatnya di beranda

segelas kopi panas

 

501

lembayung senja

tampak semakin pudar

 di atas danau

sekawan kerbau kalang

lenguh menuju pulang

 

502

angin mendesis

dalam  panas gerimis

gua Ambulung

sayup bunyi gamelan

lelagu galaganjur

 

503

surya beringsut

ke balik hutan pinus

pelan lembayung

suara burung murai

memecah kesunyian

 

504

perkutut pulang

saat surya bersilam

tinggal sendiri

mencari jalan lurus

dalam renungan senja

 

505

hujan berderai

buram kaca jendela

runtuhan pagi

setangkai bunga anggrek

dalam tiupan angin

 

506

sepasang bebek

terjun ke dalam kolam

air beriak

senyuman kembang kangkung

secerah surya pagi

 

507

pohon ketapang

daunnya berguguran

merah jalanan

riuh bunyi tonggeret

lengang menuju kota

 

508

mendadak kelam

bulan tertutup awan

bersuluh bintang

terus juga berjalan

tertanam keyakinan

 

509

hujan tak reda

sampai ke larut malam

semakin dingin

mimpi deretan becak

di kesunyian kota

 

510

masih terdengar

lirih suara pungguk

di tengah malam

bulan tiada muncul

kota kian menyepi

 

511

kerumun laron

di cahya lampu jalan

riuh lelawa

di balik gugus awan

muncul wajah rembulan

 

512

tangisan kecil

dari kamar bersalin

kumandang azan

langit sinar memancar

lahir lembayung fajar

 

513

di tangkai anggrek

lembut sepoian angin

pesona pagi

nikmat secangkir kopi

berkisah tentang cinta

 

514

di terminal bus

yang ditunggu tak tiba

berhingga senja

pada sebuah bangku

silih berganti duduk

 

515

tampak di langit

hanya gugusan bintang

ke mana bulan

lirih suara pungguk

dikesunyian malam

 

516

pesona sungai

mekarnya kembang ilung

pasang pindua

mencari rumah lanting

di mana tempat lahir

 

517

suatu malam

kelopak mawar rontok

satu persatu

kesedihan yang dalam

mencari jati diri

 

518

kembang sepatu

dikecerahan pagi

angin membelai

elok bayang berayun

dipermukaan kolam

 

519

di atas kota

ratusan burung kertas

melayang layang

di hari anak anak

lahir anak kreatif

 

520

daun gemulai

dalam semilir angin

pagi yang cerah

alam mengucap salam

rahmat dan nikmat Allah

 

521

di kala fajar

apa yang kau dustakan

laut membentang

sejauh pandang mata

tak lah cukup bahasa

 

522

belalang sembah

tangan menadah doa

di ujung senja

melintas padang lalang

kasidah burung pulang

 

523

minum teh tong tji

mengintip seekor koi

di balik batu

ekor mengibas ngibas

di kilau cahya pagi

 

524

di tengah danau

iringan kerbau kalang

pulang ke kandang

dendang jukung berkayuh

petang lembayung teduh

 

525

surya terbenam

ajal siapa tahu

jalan yang lurus

bersyukur bangun pagi

masih melihar fajar

 

526

juwita malam

sapa gerangan tuan

senyuman bulan

sebuah bangku taman

saling menyentuh rasa

 

527

air menetes

di ujung daun dadap

suara bening

langit bertabur bintang

syahdu kasidah alam

 

528

tak surya pagi

kamar terasa hampa

tinggal sendiri

capung di ujung daun

diayun ayun angin

 

529

rerumput sujud

angin mengantar senja

ke pintu kelam

syahdu lantunan azan

di desa kelahiran

 

530

kedai terapung

eksotik tanah Banjar

jukung tambangan

sarapan bingka kentang

nikmatnya kopi panas

 

531.

serumpun ilung

kembang mekar menawan

di air pasang

kota seribu sungai

indah dalam kenangan

 

532

ke mana angin

daunan pada diam

pagi bermuram

dari kaca jendela

bayang burung gereja

 

533

mencari bunga

harumnya karamunting

di taman kota

surya pagi berkisah

tentang bunga kenangan

 

534

sebuah kolam

bunga ilung dan padma

kolaburasi

mekar cahaya pagi

hilang hati yang risau

 

535

rinai halimun

kumandang azan subuh

semesta hening

pada sebuah rumah

lengking tangisan kecil

 

536

tiada terang

hanyalah kunang kunang

di rumpun semak

pada jalan kenangan

dendang pelagu sunyi

 

537

pohon terdiam

entah ke mana kicau

pagi berkabut

pelan cahya mentari

pelan daun bergoyang

 

538

kicauan burung

nikmat seduhan tong tji

beranda pagi

linangan air mata

kasih sayang Illahi

 

539

petang berkabut

jalanan jadi sepi

kota bermurung

pada pohon mahoni

cericit anak burung

 

540

marga bekantan

dari pohon ke pohon

menyeru fajar

dendang jukung berkayuh

ramai pasar terapung

 

541

danding rantauan

dikesunyian bakau

menyisir fajar

tambangan yang berkayuh

mencari rejekinya

 

542

adat badudus

mandi hamil pertama

tiam mandarin

Indonesia kaya

beragam adat budaya

               

543

tertinggal jauh

seekor burung bangau

melintas petang

waktu sangat berharga

meniti kehidupan

 

544

suatu pagi

mawar dalam jambangan

layu terkulai

di ketentraman jiwa

sumber sehatnya raga

 

545

usai membajak

iringan kerbau pulang

di kala petang

damainya kaum tani

nilai sebuah negri

 

546

di hening malam

lantunan surah yassin

bau cendana

menapak kehidupan

makna di akhir jalan

 

547

siang yang teduh

alir sungai di batu

gemercik air

kicauan burung murai

Desa Upau yang permai

 

548

cahaya bulan

terjun ke atas kolam

sepasang katak

sekar soneta alam

eloknya kehidupan

 

549

di ambang petang

angin di rumpun bambu

suara daun

merdu senandung alam

rindu kampung halaman

 

550

di atas kolam

sepasang capung terbang

melayang layang

kilau cahaya pagi

senyum bunga teratai

 

551

pendulang pulang

saat lembayung senja

Desa Cempaka

untung nasib di lobang

mencari kekayaan

 

552

sore membentang

ribuan itik pulang

riuhnya danau

lestari Danau Panggang

sumber kesejahtraan

 

553

mawar merekah

di ayun angin pagi

si bunga desa

di atas ranjang rindu

tidur mimpi gelisah

 

554

mayang mengurai

air bertabur kembang

adat badudus

budaya tanah Banjar

kekal turun temurun

 

555

langit menghitam

hilang bayangan pohon

suara pungguk

angin di rumpun bambu

berkisah tentang rindu

 

556

bausung jinggung

asli adat pusaka

pengantin Banjar

makna adat budaya

kerukunan banua

 

557

menyebrang jalan

titian batang bambu

pagi berkabut

nasib pada seorang

bukan suatu takdir

 

558

burung merpati

terbang di atas kota

pesona pagi

daun mengucap salam

assalamualaikum

 

559

daun bergoyang

hikmat mengucap salam

selamat pagi

rahmat dan nikmat Allah

maha benar firmannya

 

560

lembayung petang

kilau di alir air

sungai Barito

tambangan yang berkayuh

usai mengadu nasib

 

561

danding kuriding

dari hulu Bakumpai

mengantar senja

lama di rantau orang

rindu banua Banjar

 

562

sehangat pagi

nikmat segelas kopi

jukung tambangan

di Desa Lok Baintan

ramai pasar terapung

 

563

tunas kelapa

ditanam di halaman

sewaktu fajar

hidup nama terpuji

harum sampai kemati

 

564

di hutan pinus

berembus angin malam

suara daun

di luar makin kelam

dingin makin mencengkam

 

565

cahaya pagi

jatuh ke segelas teh

seraut wajah

sekuntum mawar merah

bercumbu dengan angin

 

566

lembayung fajar

di arus sungai Tabuk

jukung berlabuh

jiwa kayuh baimbai

adat tanah pusaka

 

567

panas gerimis

spektrum busur pelangi

pesona langit

tiada melebihi

maha lukisan Allah

 

568

di kala pagi

mawar dalam jambangan

terkulai layu

pada jiwa yang tentram

tidur pun akan nyenyak

 

569

di atas rawa

bulan tampak seiris

riuhnya katak

nikmat senandung alam

hilang hati nan risau

 

570

di kaki langit

lembayung kian susut

senja tetirah

memakna perjalanan

setiap persinggahan

 

571

kerumun laron

pada lampu jalanan

gelepar sayap

dalam sujud sajadah

mengejar cahayamu

 

572

di pintu malam

sebuah rumah tua

riuh lelawa

hanyalah kebaikan

bekal di kala ajal

 

573

putih kemilau

bermanik embun pagi

mekar melati

jiwa raga yang bugar

hidup lebih bernilai

 

574

fajar memancar

hening alam semesta

ayam berkokok

tafakur murakabah

pada sajadah subuh

 

575

jukung berdanding

lantun pantun tarasul

pulang di petang

adat jangan dibuang

tertanam dalam jiwa

 

576

halimun renyai

memutih dedaunan

hutan Meratus

harumnya kayu manis

merdu suara enggang

 

577

makan lalapan

urap kangkung kalakai

nikmat sarapan

kehidupan di desa

warga yang sederhana

 

578

semakin jauh

lambaian sapu tangan

dermaga senja

layar sudah terkembang

tidak perlu berpaling

 

579

di kabel listrik

beruntai burung layang

malam bertasbih

mendengarkan keluhan

orang tak punya rumah

 

580

ada jeritan

di dalam hujan deras

pesawat kertas

mahalnya pendidikan

banyaknya pengangguran

 

581

rang girang girang

kuranji lah pirawas

nandung taganang

hati sedang kasmaran

rindu menyeru kasih

 

582

bungkam kam bungkam

bangkai mati nyawa tak

tidak berjiwa

malam seribu gelap

baja perisai diri

 

583

pur pur sinupur

aku bawa bapupur

di bulan terang

siapa memandangku

jatuh hati padaku

 

584

ehei Batara

Hiyang sing parang maya

ruh angin tarbang

tak dapat dimaafkan

selain oleh maut

 

585

mandau sang hiyang

kucucuk tanah malai

tarbang ka langit

tak dapat bersembunyi

walau selobang jarum

 

586

padang  mandura

ruh padang mandurasi

bernyawa tunduk

putus urat seribu

tubuh rontok ke bumi

 

587

ratusan tahun

asalnya sarang elang

buluh perindu

tiada kan bersanding

maka maut maharnya

 

588

Nur namanya nur

Nur di empat belas nur

Bulan purnama

Sapa yang memandangku

Rebah roboh imannya

 

589

tidak  berpisah

kulit dengan dagingnya

borag tunggangan

tak kan bisa selingkuh

erat dengan badanku

 

590

glugur swaraku

macan putih awakku

macannya Allah

dentum petir di langit

sunyi alam semesta

 

591

di kala pagi

entah ke mana burung

sunyi suara

negri punya pemimpin

tiada berkhalifah

 

592

riuh suara

dikesunyian malam

katak di kolam

terasa dalam kalbu

nikmat nyanyian alam

 

593

bulan mengapung

di waduk Riam Kanan

suara turbin

air di waktu hujan

melompat dari tebing

 

594

pelan menyingsing

lembayung nun di timur

sajadah subuh

di dalam cahya itu

lunas segala rindu

 

595

terus berjalan

sebelum surya silam

sampai tujuan

doa setiap nafas

sehat ruhui rahayu

 

596

perlahan lahan

rembulan itu muncul

kolam purnama

setelah usai hujan

ramai soneta katak

 

597

kembang selasih

gemulai pada tangkai

pesona pagi

diketentraman jiwa

pangkal raga yang sehat

 

598

di sore itu

selembar daun luruh

tenang dan damai

pulang kehadiratnya

bekal iman dan amal

 

599

rembulan pagi

tatkala embun kering

berwajah pucat

orang teramat jelek

yang mengaku pahlawan

 


 

600

duka meratus

setanggi tanah banyu

hentak kungkurung

tidak kita sendiri

sapa bangun banua

 

601

sampai ke lembah

hentakan kurung kurung

memanggil hujan

tanah bukit Meratus

tiada lagi hijau

 

602

Ulat meletik

makan daun kenanga

rumah kepompong

dari tempat bernaung

memakna kehidupan

 

603

dari kepompong

seekor kupu kupu

belajar terbang

menuntut ilmu itu

sampai ke liang lahat

 

604

cahaya pagi

jatuh ke dalam kolam

ramai ikan koi

sekuntum mawar merah

ada di atas kursi

 

605

di gugus langit

nun kerlip bintang timur

tangan tak sampai

hidup berkesabaran

meraih angan angan

 

606

sepotong roti

dan seg’las kopi panas

di pintu pagi

mawar merah berembun

bercanda dengan angin

 

607

pagi bermendung

kucari kicau burung

di pohon dadap

doa dan berupaya

menapak kehidupan

 

608

arus Barito

mengantar silam senja

tetirah hayat

hanyalah kefanaan

lupa keabadian

 

609

memakna arus

sungai Barito senja

Kuin Utara

Galuh turun ke lanting

Mandi air setanggi

 

610

senja meluruh

hening semesta sungai

Allahu Akbar

tenggelam dalam masjid

Pangeran Suriansyah

 

611

hening mengapung

di sungai martapura

di senja kuning

adat Banjar pamali

adat turun temurun

 

612

angin membelai

aroma malam kliwon

bunga melati

mitos masih berkembang

walau putaran zaman

 

613

hembusan angin

mengharum Yek Lai Siang

perisai diri

mantra penolak santet

kembali ke asalnya

 

614

sebiji rambai

jatuh di sungai pasang

suara air

di dalam keheningan

membaca fana diri

 

615

mengayuh jukung

kala fajar menyingsing

mengadu nasib

entah pasar terapung

hanya tinggal kenangan

 

616

rumput bersujud

angin mengantar senja

ke pintu malam

pada akhirnya, fana

dan kembali, abadi

 

617

angin berhembus

hujan di tengah malam

di kota Batu

sebuah kamar vila

tidak ada selimut

 

618

rerumpun bambu

dibelai angin petang

nyanyian padi

negri yang sejahtera

subur sawah dan ladang

 

619

teratai merah

mekar di tengah kolam

rembulan emas

riuh katak berdendang

hilang hati yang risau

 

620

di kaki langit

bulan belah semangka

doa nelayan

nasib diperjalanan

bukan takdir Ilahi

 

621

Ingin menyeb’rang

jembatan bambu licin

suara sungai

setiap pekerjaan

cermat serta teliti

 

622

dalam jambangan

sekuntum mawar merah

pagi mewangi

sekar merajut rindu

lekat dalam kenangan

 

623

menuju pulang

seekor kunang kunang

menembus kelam

berangkat dari kecil

menuju kesuksesan

 

624

ke mana surya

dedaunan terdiam

pagi bersendu

cicit burung gereja

risau di atap rumah

 

625

rumah kepompong

pada selembar daun

metamorfosis

mengintip proses ulat

berubah kupu kupu

 

626

reranting patah

jatuh ke perut bumi

sekian lapuk

pada akhirnya fana

apa yang dibanggakan

 

627

kakamban habang

sangkut di ranting culan

semilir pagi

baik budi bahasa

akan terkenang jua

 

628

mendung tergantung

pagi berwajah murung

kayuh tambangan

sepi pasar terapung

tempat mengadu nasib

 

629

kedai terapung

aneka makan minum

jukung tambangan

nikmat sarapan pagi

kopi dan bingka kentang

 

630

di ambang malam

hening sungai Barito

lelampu lanting

azan menara masjid

Pangeran Suriansyah

 

631

pagi tak surya

kota diliput duka

sonder merpati

diam karena entah

buah si malakama

 

632

suatu sore

teringat teluk Palu

rindu mengombak

masihkah kau di sana

desir Pantai Talise

 

633

suatu senja

angin di daun pinus

serupa tangis

sebelum surya silam

betulkan arah kiblat

 

634

di ujung daun

butir embun menetes

duka sang mawar

jelita di jendela

dibelai angin pagi

 

635

porak poranda

ke mana surya silam

bencana alam

dukaku duka Palu

kucari kau di mana

 

636

di ambang senja

angin pantai Pagatan

celoteh ombak

laut cahya lembayung

cerita tentang bagang

 

637

di tengah hari

sebuah taman kota

desir cemara

di Kafe Minggu Raya

segelas jus alpukat

 

638

kucing berlari

masuk ke dalam rumah

langit temaram

pergi ketempat kerja

tak lupa bawa payung

 

639

senja Tanah Lot

angin mengejar ombak

debur di pantai

meditasi di karang

membaca jalan hidup

 

640

secupak nira

sampan di atas danau

merindu bulan

rambut sutra bergerai

tari putri rembulan

 

641

jukung merapat

dari penjuru sungai

pasar terapung

tanggui adat budaya

pesona galuh Banjar

 

642

siang di ladang

nikmatnya singkong bakar

suling kecapi

di dusun kelahiran

damai dan sejahtera

 

643

suatu pagi

ke mana kicau murai

di dalam sangkar

koruptor senyum simpul

kala masuk penjara

 

644

Seekor pungguk

bertanka tentang cinta

rembulan kelam

angin membawa kisah

danau dendam tak sudah

 

645

becermin laut

saat surya terbenam

membaca diri

menitik air mata

doa di lubuk jiwa

 

646

bunga kertasku

kurangkai dalam kenangan

malam rembulan

sebuah taman mimpi

kembang culan mewangi

 

647

suling kecapi

dalam lembayung senja

sawah menguning

terpujilah petani

makmur ibu pertiwi

 

648

bulan tembaga

bermain daun persik

di tengah angin

sayup juwita malam

menembus kamar sepi

 

649

malioboro

mandi cahaya bulan

sekar sekaten

mekar senyum pesinden

gita gending macapat

 

650

karang Tanah Lot

jiwa di dasar hening

deburan ombak

eksplor jalan usia

sepanjang alir nafas

 

651

sesayup tanka

di bawah sinar bulan

angin di daun

gitar di jari lentik

tumpah isi hatinya

 

652

mentari perak

pada sebuah taman

akhir Oktober

gadis itu termangu

saat flamboyan luruh

 

653

halimun renai

flora bermandi embun

sejuknya pagi

tidak habis bersyukur

rahmat dan nimat Allah

 

654

di tengah malam

sujud di sajadahmu

curahan hati

di jalan kehidupan

banyak nian godaan

 

655

siang yang sejuk

merdu alunan suling

padi menguning

terpujilah petani

makmur ibu pertiwi

 

656

seruling senja

mengantar kerbau pulang

usai membajak

derai serumpun bambu

tanka dusun yang permai

 

657

jukung berlabuh

sampai surya terbenam

rantauan bakau

hidup mesti berarti

di kehidupan ini

 

658

rambai meranggas

sepanjang tepi sungai

lirih bekantan

keyakinan yang teguh

di jalan kehidupan

 

659

mentari muncul

pada tirai gerimis

ada pelangi

pelukis itu sadar

ada pelukis agung

 

660

menapak jalan

di tengah panas hari

cari rejeki

semangat kakek tua

menjaja sapu lidi

 

661

lembayung itu

lengser ke batas laut

surya terbenam

nyala lampu lantera

kehidupan nelayan

 

662

lembayung fajar

pelan bangkit di timur

jukung merapat

eksotik tanah Banjar

ingat pasar terapung

 

663

menyisir arus

eloknya kembang ilung

pasang pindua

melintas bunga desa

cantik tanpa kosmetik

 

664

di hutan bakau

lirih kuak bekantan

memanggil fajar

sungai Barito keruh

cemar sampah dan limbah

 

665

di musim hujan

sungai menjadi buntu

tumpukan sampah

kebersihan lingkungan

tanggung jawab bersama

 

666

lintasan senja

nyiur pada menghening

mengantar surya

di akhir perjalanan

perhentian abadi

 

667

di luar kamar

bulan ditutup awan

angin di daun

secangkir kopi panas

nikmat soneta malam

 

668

laut Tanah Lot

matahari terbenam

pesona alam

seusai debur ombak

hening terasa nikmat

 

669

seekor tupai

mengerat buah nyiur

menjelang pagi

banyak tikus kantoran

mengerat kas negara

 

670

di pohon binjai

lirih suara bubut

ekornya basah

hutan pohon halaban

daun bermandi embun

 

671

sekerat roti

semangkok bubur kacang

hujan bernyanyi

makna alam semesta

syukur maha pencipta

 

672

pagi di teras

ramai kerumun semut

di secangkir teh

gula rasanya manis

daya tarik yang kuat       

 

673

di pagi itu

mawar dalam pot bunga

layu terkulai

mimpi apa gerangan

gadis itu termangu

 

674

seraut wajah

jatuh di gelas kopi

sore kelabu

capung di daun lalang

diayun ayun angin

 

675

mentari terbit

lembayung wajah laut

hening mengapung

di tepi pantai Sanur

memandang laut lepas

 

676

pesawat kertas

jatuh ke tanah basah

angin menderu

sehat lebih berharga

uang bisa dicari

 

677

kembang ilalang

putih lereng meratus

hentak kungkurung

lelatu beterbangan

dari hutan terbakar

 

678

cahya rembulan

perak di puncak ombak

siluet laut

desir buih di pantai

membasuh duka lara

 

679

di kala senja

surya lengser ke ufuk

suara tokek

kepentingan seorang

kawan pun jadi lawan

 

680

sekawan manyar

ngamuk dalam kerangkeng

di pasar pagi

orang tidak termakan

propaganda di mimbar

 

681

sedari pagi

keong meniti bambu

beringsut ingsut

bekerja dengan cermat

menuju kesuksesan

 

682

di ranting pagi

seekor anak murai

belajar terbang

daun dadap bergoyang

lembut mengucap salam

 

683

fajar memancar

konser kicauan burung

kerbau ke sawah

anugerah rejeki

sedari terbit surya

 

684

siang yang terik

air di batu sungai

bunyi kemercik

jalan menuju dusun

riuh suara tangir

 

685

renyai gerimis

menjelang akhir tahun

doa musafir

becermin pada senja

umur semakin renta

 

686

tangisan kecil

mendayu tengah malam

angin di daun

menulis ayat tanka

lahir di rahim malam

 

687

mentari pelan

lengser di kaki langit

laut lembayung

di dermaga harapan

layar sudah terkembang

 

688

di kala subuh

hening alam semesta

kumandang azan

di atas tikar butut

doa curahan hati

 

689

suara jangkrik

membuka pintu malam

beduk bertalu

membetulkan syahadat

lurus menuju kiblat

 

690

anak belibis

menunggu induk pulang

surya terbenam

langit berkabut tebal

asap hutan terbakar

 

691

padang ilalang

lereng bukit Sagaling

hangus terbakar

ribuan burung puyuh

terbang ke lembah Layuh

 

692

menunggu waktu

salat jumat di masjid

meronce zikir

hidup hanya sekali

hidup mesti berarti

 

693

beranjak fajar

ayam jantan berkokok

alam tafakur

menyempurnakan wudhu

bening air Illahi

 

694

kalbu tafakur

merenung diri fana

surya terbenam

pada segumpal darah

janji t’lah diikrarkan

 

695

di malam larut

menunggu kedatangan

kereta api

mesti berkesabaran

menempuh kehidupan

 

696

setiba subuh  

gerimis tak berhenti

dingin sekali

jalani kehidupan

tebalkan keimanan

 

697

menapak jejak

belajar dari surya

di kehidupan

tak meminta balasan

ikhlah yang diberikan

 

698

merenung diri

apa buat negara

hari pahlawan

Lilin memberi terang

Walau tubuh meleleh

 

699

tampak di langit

senja tak lembayung

gerimis turun

jukung tambangan pulang

usai mengadu nasib

 

  Arsyad Indradi  Ruang Hening 1500 Tanka Indonesia Ilustrasi Cover : Alvin Shul Vatrick Penerbit : Kelompok Studi Sastra Banjarbaru...